Pages

Friday, July 24, 2015

Cirebon, Kuningan, Bandung Trip

Perjalanan 2 hari 1 malam (27 - 28 Juni 2015) menjelajah Cirebon, Kuningan dan Bandung.
Saya di ajak Bpk. Pendeta Onesimus Dani untuk mendampingi atau lebih tepatnya mendokumentasikan kegiatan Bpk Pdt. dan para katekisan angkatan 2014-2015.
Saya merasa sangat bersyukur diajak dan bisa ikut perjalanan ini, banyak sejarah yang saya tahu dan saya mengenal salah satu agama tertua di Indonesia selain Hindu, Budha yaitu Sunda Wiwitan atau Djawa Sunda di Kuningan. Agama ini tidak di akui di Indonesia padahal merupakan agama tertua, ternyata masih banyak agama-agama di Indonesia yang tidak di akui. Sempat terbesit pertanyaan, mengapa hanya hanya 6 agama yang di akui di Indonesia?tapi saya menemukan jawabannya sendiri (saya yang nanya,saya yang jawab) Pemerintah hanya mengakui 6 agama agar tidak terjadi 'kerusuhan agama' atau bahkan atheisme (orang yang tidak memiliki agama), agar dapat di kontrol, agar terjadi kesinambungan, agar damai, agar setiap orang tidak bingung dengan agama yang diyakininya. Sekarang saja yang hanya 6 agama masih susah akur, adu bakar tempat ibadah, saling menuduh teroris, tidak bisa menghormati agama lain beribadah bagaimana kalau ada 10 atau lebih agama.


Saya juga jalan-jalan ke keraton Cirebon, jujur saya kurang suka dengan suasana keraton yang banyak pengemisnya karena yang saya tahu keraton itu bersih, hening dan sopan. Pas awal masuk biasa saja. Setelah melewati siti inggil di situ ada orang yang sedang menyapu saya kira abdi dalem ternyata orang luar keraton minta sumbangan kebersihan, jalan lagi ada lagi yang seperti itu sampai masuk ke dalam museumnya pun seperti itu, entah ada berapa pengemis di dalam keraton itu. Untuk hal itu memang saya sesali tetapi untuk sejarah saya banyak dapat disini, saya bisa mengetahui silsilah sunan gunung jati, melihat kereta barong, yang paling takjub liat lukisan prabu siliwangi kalau kita menghadap kiri lukisan prabu siliwangi juga seperti menghadap kiri,kita hadap kanan lukisan juga menghadap kanan, hadap hadapan / depan depanan juga bisa. Bapak Pdt bilang ada juga lukisan seperti ini tapi saya lupa lukisan siapa & dimana (maaf kan kepikunan saya dan ke norak-an saya karena pertama kali melihat lukisan prabu siliwangi, saya sampai bolak balik kanan kiri untuk memastikan lukisan itu,saya perhatikan dari sudut kaki hingga kepala).

Nah kalau di Bandung saya di buat bangga sebagai warga GKP (Gereja Kristen Pasundan), saya kaget ternyata saya sebagai warga GKP sangat kaya, gereja tidak hanya bergerak di bidang pelayanan tapi juga sudah masuk ke bidang perekonomian. Awalnya susah untuk saya menerima kalau GKP juga berbisnis tapi setelah dipikir pikir lagi (lagi lagi saya yang bertanya,saya yang menjawab) darimana dana pelayanan kalau pemasukan hanya dari persembahan gereja-gereja?bagaimana mensubsidi gaji Pendeta yang ditempatkan di wilayah terpencil yang jemaatnya hanya puluhan dan pekerjaannya hanya berladang atau buruh bangunan atau petani? darimana dana rumah sakit binaan / milik GKP untuk melakukan pelayanan perawatan gratis, obat gratis, dan lain-lain? oleh karena itu masuk ke bidang ekonomi atau berbisnislah cara untuk mesubsidi dana dana yang di butuhkan.
Untuk bidang pelayanan kesehatan dan pendidikan saya sudah tahu sejak lama kalau GKP punya Universitas Maranatha Bandung dan Rs. Immanuel Bandung, tapi yang buat saya kaget tenyata GKP juga punya franchise Alfamart, Cafe / Warung Suluh Bandung, Mall Istana Plaza dan yang sedang dalam pembangunan adalah hotel, untuk semua aset ini memang GKP bukan pemegang saham 100% tapi membanggakan saja ketika tahu GKP turut serta didalamnya.

ohh iya,saya juga ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada Bpk. Pdt. Yayan beserta Ibu dan adik-adik (anak dari Bpk. Pdt. Yayan) Jaka dan Lanang yang sudah bersedia di repotkan dan mau memberikan kami tempat menginap dan jadi local guide selama di Kuningan. Ada satu lagi yang unik (menurut saya) pada hari minggu ketika ibadah minggu di GKP Cigugur kebetulan itu adalah minggu keempat, nah di GKP Cigugur setiap minggu keempat tata kebaktian menggunakan basa dan adat sunda mulai dari nyanyian, khotbah hingga pakaiannya, Puji Tuhan sewaktu SD saya belajar basa sunda jadi mengerti sedikit-sedikit. Menurut saya kreatif juga mengadakan tata kebaktian seperti itu, agar adat dan budaya tidak hilang walaupun ada beberapa pertentangan bahwa tata cara kebaktian seperti itu menggunakan baju adat bukan jubah pada saat khotbah tidak diperbolehkan di gereja. Kalau masalah lagu, di GKP Jatiasih jika ada tata ibadah khusus kami suka menyanyikan lagu basa sunda.

Berikut hasil jepretan saya selama perjalanan :

Cirebon

GKP Cirebon
GKP Cirebon arsitekturnya masih dipertahankan dari jaman Belanda dengan pintu masuk yang besar serta jendela-jendela yang besar. Mimbarnya masih menggunakan mimbar cawan asli dari Belanda, hanya ada 2 di Nusantara yang 1 lagi ada di GKP Kp. Sawah. Di halaman parkir GKP Cirebon ini terdapat beberapa makam Belanda, mungkin makam ini adalah makam para pewarta firman Tuhan.







Keraton Kasepuhan Cirebon
Di keraton kasepuhan ini kita bisa melihat kereta singa barong, silsilah kasepuhan keraton Cirebon dari Nabi Muhammad hingga Sunan Gunung Jati dan bagaimana kedatangannya dari Mesir.












Goa Sunyaragi
Goa ini masih digunakan untuk tempat bersemedi dan ada panggung yang digunakan untuk menampilkan kesenian budaya. Menurut cerita warga tempat ini tidak bisa digunakan untuk acara-acara non formal (bebas) seperti konser musik, jika digunakan untuk acara bebas biasanya akan turun hujan tetapi jika digunakan untuk acara seni budaya atau adat tidak pernah hujan, cuaca cerah.







Batik Trusmi
Batik Trusmi adalah toko batik yang terkenal dan terbesar di jalan terusmi.
Terkadang di depan toko ini ada pembatik yang sedang membatik kain.








Kuningan

Gedung Perjanjian Linggarjati






Paseban Tri Panca Tunggal
Paseban Tri Panca Tunggal dulunya Kepangeranan Gebang, Cirebon Timur tahun 1840.
Dahulu dipimpin oleh Kiai Sadewa Madrais Alibasa, keturunannya adalah Pangeran Djati Kusumah dan diteruskan oleh anaknya Pangeran Gumirat Barna Alam.
Disini saya banyak dijelaskan mengenai aliran agama Sunda Wiwitan atau biasa disebut penghayat. Agama ini merupakan salah satu agama tertua di Indonesia namun tidak diakui oleh negara. Pangeran Gumirat menunjukkan KTPnya kepada saya dan ternyata di baris agama diisi dengan - (strip) atau tidak mempunyai agama dan waktu mengurus akta pernikahan butuh waktu 10 tahun hingga akta pernihakannya dibuat karena pernikahan Pangeran dianggap tidak sah oleh negara.



Foto bersama Rama Sepuh (Pangeran Djati Kusumah)

Foto bersama Rama Sepuh (Pangeran Djati Kusumah)


Pendeta Onesimus Dani dan Pangeran Gumirat Barna Alam

Pangeran Djati Kusumah

Pangeran Gumirat Barna Alam

Mayasih Park
Di Taman Mayasih Cigugur kita bisa melihat batu-batu besar peninggalan jaman megalitikum.







Taman Purbakala Cipari













Bandung

Kantor Sinode GKP






Warung Suluh












1 comment:

  1. Trimakasih ulasan perjalanan yg menyenangkan, trimakasih foto2 yg profesional cara pengambilannya...
    Dokument ini sgt berharga.
    Trims Erika, lanjutlah berkarya...

    ReplyDelete